BAB II
TINJAUAN PUSTAKAA. LANDASAN TEORI
1. Status Gizi
a. Pengertian Gizi
Kata gizi berasal dari bahasa Arab ghidza yang artinya makanan, sedangkan makanan adalah bahan-bahan selain obat yang mengandung zat gizi dan berguna bila dimasukan ke dalam tubuh. Zat gizi mempunyai arti ikatan kimia yang di perlukan tubuh untuk melakukan fungsinya yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan tubuh serta mengatur proses kehidupan (Almatsier, 2003).
Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang di konsumsi secara normal melalui proses digesti absorpsi (penyerapan pencernaan), transportasi, penyimpanan metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan (Supariasa, 2002).
b. Status Gizi
|
Status gizi ibu hamil adalah keadaan kebutuhan gizi ibu selama hamil dimana seorang wanita memerlukan berbagai unsur gizi yang jauh lebih banyak dari pada yang di perlukan dalam keadaan tidak hamil (Amiruddin, 2007).
Status gizi ibu hamil sangat mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungan. Apabila status gizi ibu buruk, baik sebelum kehamilan dan selama kehamilan akan menyebabkan berat badan lahir rendah (BBLR). Selain itu ,akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan otak janin,anemia pada bayi baru lahir, bayi baru lahir mudah terinfeksi, abortus.
c. Penilaian Status Gizi
Penilaian status gizi menurut Supariasa (2002) di bagi menjadi dua, yaitu:
1) Penilaian secara langsung yang meliputi :
a) Antropometri, yaitu penilaian yang di tinjau dari sudut pandang gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proposisi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.
Penilaian status gizi secara langsung menggunakan pengukuran antropometri sebagai berikut:
b) Klinis, yaitu penilaian yang didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi di hubungkan dengan epitel permukaan (supervicial ephithelial tissues) seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral. Penggunaan metode ini umumnya untuk survey klinis secara cepat (rapid clinical survey).
c) Biokimia, yaitu penilaian melalui pemeriksaan spesimen yang di uji secara laboratoris. Metode ini digunakan untuk suatu pengertian bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan manultrisi yang lebih parah lagi.
d) Biofisik, yaitu penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur jaringan. Umumnya digunakan untuk situasi tertentu saja.
2. Penilaian secara tidak langsung yang meliputi :
a) Survei konsumsi makanan, yaitu penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah zat gizi yang di konsumsi. Survey ini dapat mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan zat gizi.
b) Statistik Vital, yaitu dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungandengan gizi. Penggunaan sebagai indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat.
c) Faktor ekologi, biasanya di gunakan pada program intervensi gizi.
3. Indikator Status Gizi
a). Berat Badan menurut Tinggi Badan ( BB/TB)
berat badan merupakan ukuran antropometri yang paling banyak digunakan karena parameter ini mudah dimengerti sekalipun oleh mereka yang buta huruf. Berat badan memiliki hubungan yang linear dengan tinggi badan. Dalam keadaan normal perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan tertentu. Jelliffe (1996) telah memperkenalkan indeks ini untuk mengidentifikasi status gizi. Indeks berat badan/tinggi badan merupakan indikator yang baik untuk menilai status gizi saat ini atau sekarang. Dalam menentukan berat badan/tinggi badan tidak memerlukan data umur. Indeks berat badan menurut tinggi badan ( berat badan/tinggi badan ) dapat dilihat pada ambang batas berat badan /tinggi badan menurut Supariasa (2002)
1. Baik: Penambahan berat badan selama kehamilan 9-12kg.
2. Kurang: Penambahan berat badan selama kehamilan < 9 kg.
4. Kebutuhan Gizi pada Ibu Hamil
Kehamilan adalah masa dimana seorang wanita memerlukan berbagai unsur gizi yang jauh lebih banyak dari pada yang diperlukan dalam keadaan tidak hamil. Sebab terjadi peningkatan energi dan zat gizi untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Sehingga kekurangan zat gizi tertentu yang di perlukan saat hamil dapat menyebabkan pertumbuhan dan perkembangn janin terhambat. Kebutuhan energi pada wanita selama hamil menurut Arisman (2004) naik 300 kkal lebih banyak dari kebutuhan wanita saat tidak hamil yaitu menjadi 2300 kkal per hari (Zaenab, 2008).
Kebutuhan akan energi meningkat secara minimal pada trimester I, Kemudian pada trimester II dan III kebutuhan terus meningkat sampai akhir kehamilan. Karena adanya perbedaan kebutuhan energi selama hamil, WHO menganjurkan jumlah tambahan energi sebanyak150 kkal pada trimester I dan 350 kkal pada trimester II dan III. Sedangkan menurut Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi V (2000) menganjurkan tambahan energi sebesar 285 kkal per hari (Amirudin, 2007).
5. Etiologi BBLR
BBLR dapat terjadi karena dua macam penyebab yaitu karena umur kelahiran pada saat kelahiran kurang dari 37 minggu dan karena berat badan lebih rendah dari semestinya sekalipun umur cukup, atau karena kombinasi kedua-duanya, dimana fakto-faktor penyebabnya dapat berasal dari faktor ibu yaitu gizi saat hamil kurang, umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun, jarak hamil dan bersalin terlalu dekat, penyakit menahun seperti hipertensi, jantung, pre eklamsi, perokok. Faktor kehamilan yaitu hamil dengan hidramnion, hamil ganda, perdarahan antepartum, komplikasi kelamilan. Faktor janin yaitu cacat bawaan, infeksi dalam rahim. Dan faktor lain yang beludiketahui (Manuaba, 1998).
6 Faktor Predisposisi
Menurut Krisdinayanti, (2007) terdapat beberapa faktor predisposisi diantaranya :
a. Faktor ibu
1) Penyakit ibu
1. Hypertensi
Hypertensi dalam kehamilan sering disebut dengan pre-eklampsi yaitu jika tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg. Penyakit ini menyebabkan Vasokontriksi pembuluh darah sehingga mengurangi aliran darah Uteroplasenta yang menuju janin.
2. Jantung
Wanita menderita jantung akan mengalami hipoksia secara kronis sehingga berakibat janin mengalami penurunan berat badan secara signifikan.
3. Penyakit paru-paru
Pada wanita dengan penyakit paru-paru akan mengalami hipoksia secara kronis sehingga janin dap[at mengalami hambatan pertumbuhan intrauterin.
4. Penyakit Pre eklamsia/Eklamsia
Pada wanita dengan pre eklamsi/Eklamsia akan menyebabkan iskemi utero-plasenta yang menyebabkan suplai oksigen dan nutrisi tidak adekuat sehingga mengalami hambatan pertumbuhan intrauterine.
5. Kurang darah (anemia)
Anemia dapat didefinisikan sebagai kondisi dengan kadar Hb berada di bawah normal. Di Indonesia Anemia umumnya disebabkan oleh kekurangan Zat Besi, sehingga lebih dikenal dengan istilah Anemia Gizi Besi. Anemia defisiensi besi merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi selama kehamilan. Ibu hamil umumnya mengalami deplesi besi sehingga hanya memberi sedikit besi kepada janin yang dibutuhkan untuk metabolisme besi yang normal. Selanjutnya mereka akan menjadi anemia pada saat kadar hemoglobin ibu turun sampai di bawah 11 gr/dl selama trimester III. Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak. Anemia gizi dapat mengakibatkan kematian janin didalam kandungan, abortus, cacat bawaan, BBLR, anemia pada bayi yang dilahirkan, hal ini menyebabkan morbiditas dan mortalitas ibu dan kematian perinatal secara bermakna lebih tinggi. Pada ibu hamil yang menderita anemia berat dapat meningkatkan resiko morbiditas maupun mortalitas ibu dan bayi, kemungkinan melahirkan bayi BBLR dan prematur juga lebih besar. (Lubis, 2003).
2) Gizi saat hamil yang kurang
Ibu hamil dengan gizi yang kurang akan menyebabkan malnutrisi, Sedangkan malnutrisi akan berakibat pada janin, Janin dalam kandungan membutuhkan zat makanan yang cukup terutama protein dan vitamin untuk perkembangan dan pertumbuhannya. Bila ibu malnutrisi, bayi tidak terpenuhi kebutuhannya sehingga dapat menyebabkan bayi lahir dengan berat badan lahir rendah. Gizi yang baik diperlukan seorang ibu hamil agar pertumbuhan janin tidak mengalami hambatan, dan selanjutnya akan melahirkan bayi dengan berat normal. Dengan kondisi kesehatan yang baik, system reproduksi normal, tidak menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada masa pra hamil maupun saat hamil, ibu akan melahirkan bayi lebih besar dan lebih sehat (Lubis, 2003).
3) Umur kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
Karena pada umur kurang dari 20 tahun organ reproduksi belum sempurna, sedangkan pada umur lebih besar dari 35 tahun organ reproduksi mulai mengalami degenerasi dan tidak dapat berfungsi dengan sempurna.
4) Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat
Hal ini berkaitan dengan fungsi organ yang belum kembali sempurna dari kehamilan dan persalinan sebelumnya. Kejadian tertinggi terjadi pada jarak hamil dan bersalin kurang dari dua tahun karena hal ini dapat terjadi komplikasi antara lain : anemia berat, partus pre-term dan kematian perinatal meningkat (Manuaba, 1998).
5) Umur kehamilan
Umur kehamilan dapat menentukan berat badan janin, semakin tua kehamilan maka berat badan janin akan bertambah. Pada umur 28 minggu berat janin kurang lebih 1000 gram, sedangkan pada kehamilan 37 – 42 minggu berat janin di perkirakan mencapai 2500 – 3500 gram (Wiknojasatro, 2002).
b. Faktor kehamilan
1) Hamil dengan hydramnion
Hydramnion menyebabkan uterus regang sehingga dapat menyebabkan partus prematurus, inersia uterus, atau perdarahan post partum (Wiknjosastro, 2002).
2) Kehamilan ekstrauteri
Janin yang tumbuh di luar uterus biasanya mengalami hambatan pertumbuhan, demikian juga dengan malformasi uterus ibu dikaitkan dengan gangguan pertumbuhan janin
c. Faktor Uterus dan Plasenta
1) Gangguan pembuluh darah
Kegagalan pada kasus diperkirakan sering disebabkan oleh insufisiensi plasenta keadaan dimana plasenta baik secara anatomik maupun fisiologik tidak mampu memberi makan dan oksigen kepada fetus juga untuk mempertahankan\ pertumbuhan dan perkembangan secara normal (Wiknjosastro, 2002).
2) Pengapuran plasenta
Pada permukaan maternal kadang terdapat tempat-tempat yang mengalami perkapuran sehingga aliran darah kejanin sedikit dan menyebabkan retardasi pertumbuhan pada janin (Sastrawinata, 2005)
7. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
a. Pengertian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang berat lahirnya 2500 gram atau kurang, tanpa memperhatikan umur kehamilannya (Depkes RI, 2008).
b. Macam-macam BBLR
Menurut Klaus dan Fanaroff (2000) BBLR digolongkan menjadi dua, yaitu:
1) Prematuritas murni adalah bayi lahir dengan masa genetasi kurang dari aterm dan berat badannya sesuai dengan berat badan untuk masa genetasi itu atau sesuai masa kehamilan (SMK).
2) Dismatur adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi itu, ini berati bayi mengalami retardasi pertumbuhan intra uterin dan merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya (KMK)
c. Faktor Janin meliputi :
a. Pengertian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang berat lahirnya 2500 gram atau kurang, tanpa memperhatikan umur kehamilannya (Depkes RI, 2008).
b. Macam-macam BBLR
Menurut Klaus dan Fanaroff (2000) BBLR digolongkan menjadi dua, yaitu:
1) Prematuritas murni adalah bayi lahir dengan masa genetasi kurang dari aterm dan berat badannya sesuai dengan berat badan untuk masa genetasi itu atau sesuai masa kehamilan (SMK).
2) Dismatur adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi itu, ini berati bayi mengalami retardasi pertumbuhan intra uterin dan merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya (KMK)
c. Faktor Janin meliputi :
a. Janin Ganda
Kehamilan dengan dua janin atau lebih kemungkinan besar dipersulit oleh pertumbuhan kurang pada salah satu atau kedua janin dibanding dengan janin tunggal. Semakin besar jumlah bayi, samakin besar derajat retardasi pertumbuhan (Krisdinayanti, 2007)
b. Kelainan Kongenital
Kelainan kongenital merupakan dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasil konsepsi telur. Bayi yang dilahirkan dengan kelainan kongenital besar, umumnya akan dilahirkan sebagai bayi lahir dengan berat badan lahir rendah bahkan sering pula sebagai bayi kecil untuk masa kehamilan. Infeksi virus, bakteri, protozoa 5% kasus pertumbuhan janin terhambat. Insiden terbanyak adalah infeksi yang disebabkan oleh rubella dan sitomegalovirus. Hal ini dikarenakan oleh virus sitomegalovirus merusak sel-sel fungsional sedangkan rubella menyebabkan infiensi vascular dengan merusak endotelium pembuluh darah kecil (Krisdinayanti, 2007).